Pengen Cerita Ajaa

Sampai sekarang gue masih mikir sebenernya. Gue kayak udah over-act banget, udah melampaui batas ngelakuin ‘everything’ buat dia. Gatau gue yang bego atau gue ga sadar-sadar. Haha, sebenernya sama aja sih. Prinsip “Love is giving, not receiving” – Mr. Stefvy emang bener banget, nyata. Gue berpegang teguh sama prinsip ini. Gue nggak mengharapkan kembali lagi apa yang gue lakuin. Karena dengan begitu, gue udah bener-bener ngerasa bahagia. Gue memberikan apa yang pengen gue beri ke seseorang, dengan sendirinya kebahagiaan gue lebih sempurna dari sebelumnya.
Ngerasain yang namanya cape?  Lelah? Pengen udahan aja buat ngelakuinnya? Udah sering iming-iming begituan lari-lari di pikiran gue. Tapi hal yang bikin gue nggak pernah putus asa adalah, karena gue bukan tipe orang yang mudah menyerah. Sesederhana itu. Tapi nggak semua orang gampang buat ngejalaninnya. True or False?
Sejujurnya, iya gue akuin. Gue mencintai orang yang entah hatinya untuk siapa.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jadi gue mau jujur lagi.

Gue sama dia dulu pernah punya suatu hubungan, ya udah nggak asing lah namanya. Gue + dia = pacaran gitu statusnya. Lebih dari 4 bulan sih. Namun ketika dari semuanya gue udah ngerasa yakin dia emang ditakdirkan buat gue, everything has changed. Gue ngerasain yang namanya patah hati lagi untuk ke sekian kalinya, gue trauma ringan. Gue jadi benci sama yang namanya cowok. Bukan. Bukan karena dia ditakdirkan bakal jadi pasangan lawan jenisnya di dunia ini. Gue benci cowok yang suka ngejanjiin doang, janji-janji manis dia, seakan itu drama terluar-biasa yang pernah dimainkan oleh dia. Gue jadi apatis gitu sama cowok.
Butuh beberapa bulan buat kembali normal, menstabilkan pikiran gue dari yang namanya suatu hubungan. Akhirnya gue sadar, gue nggak boleh stuck. “Sakit hati boleh, tapi jangan sampe nyakitin diri-sendiri. “ – kalimat yang sengaja gue kutip dari temen gue. Pasti yang namanya cewek, apalagi diputusin ya nggak ada hari tanpa nangis. Cengeng. Emang. Lah? Lo pikir nggak sakit apa diputusin pas lagi sayang-sayangnya, cinta-cintanya, emang bego tuh cowok. Eh sama-sama bego biar fair. Begonya tau, kan? Iya karena gue apa-apa jadi baper, dikit-dikit pengen nangis, dikit-dikit jadi nangis beneran.
Bayangin. Eh jangan dipaksa deng kalo lo gabisa bayangin. Nihya, akibat yang gue derita jadi nggak nafsu makan. Gue nggak makan-makanan berat selama 3 hari. Kurang gila ya? Ya emang gue mah nggak bisa segila kayak lo-lo semua. Hehe. Gadeng canda. Dan banyak perubahan-perubahan yang gue lewati. Menurut temen gue, perubahan-perubahannya antara lain: jalan makin cepet, sampe-sampe dijulukin ‘top speed’. Apaan sih apaan? Kalo ngomong asal jeplak aja, kan bukan sandal. Eh, itu ceplek bukan jeplak. Beda jauh ya? Ya emang iya. Kemudian, jadi galak. Ini heran kenapa pada ngatain gue galak. Sebenernya mereka pada buta pada tuli enggak sih, gue ini orangnya emang galak dari lahir. Segitu kalo gue marah-marah ke mereka, marahnya beneran juga nggak pernah boongan. Ah, kok jadi makin bego-_-
Oke yang terakhir. Gue jadi makin sibuk. Astaga, gue ini anak organisasi di sekolah. Mereka yang salah atau gue sih? Wajar nggak kalo gue makin sibuk, ketika itu gue sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk acara graduation. Yap, Penglepasan Kelas XII. Secara, gue jadi Seksi Acara dalam program kerja (proker) kali ini. Gue jadi Seksi Acara Utama guys. SEKSI ACARA. Seksi mondar-mandir menyusun acara dan berkoordinasi dari satu Pembina ke Pembina lainnya. Gimana nggak pusing? Ah enggak, biasa aja. Cuma migren. Ya bego sama aja. Halah. Selain proker di atas, ada satu proker lagi yang berhubungan dengan ekstrakurikuler. Sama aja sibuknya. Sebenernya kalo dilanjutin ntar kepanjangan, jadi nggak usah. Cukup sampe disitu aja penilaian yang aneh-aneh dari temen-temen terhadap gue. Gue yang teraniaya iniL
Seiring berjalannya waktu, masa-masa gue melewati yang namanya ‘move on’. Akhirnya sedikit demi sedikit, tahap demi tahap, gue bisa setengah lebih jauh dari kehidupannya. Udah ngerasa selangkah lebih maju dari yang sebelumnya berhenti.
TAPI PADA AKHIRNYA -----------------------------------------------------------------------------------------------------
Tetep aja gue gagal move on. Failed goals emang yang namanya maksain move on tuh. Parah. Sumpah. Gue juga nggak percaya. Kenapa ya. nggak tau gue juga. Lo tau nggak. Nggak ya. Sama aja. Sama-sama bego baca tulisan beginian. Bubar aja bubar. Tapi masih pengen nulis ah.
Saran gue sih, berhubung gue udah pernah ngerasain. Lo boleh nangis sepuasnya tiap inget memori-memori yang udah lo lewatin bersama doi, doi yang sekarang jadi mantan lo. Lo boleh nikmatin rasa sakit hati yang menurut lo udah paling luar biasa kalo itu bisa bikin lo kuat. (yang ada makin melempem). Lo boleh kok ngehabisin berlembar-lembar tissue, sampe lo beli selusin pun silahkan. Lo boleh ngelakuin hal-hal weird asal jangan sampai melebihi batas. Tapi inget satu. Tuhan selalu bersama lo. Tuhan nggak pernah tidur. Curhat securhat-curhatnya sampe lo nggak ngerasain lagi betapa banyak butiran air mata yang lo keluarin. Curhat ke Maha Pemberi Sang Rasa. Jangan sampe gara-gara putus cinta, lo ngelupain segala-galanya. Buka lebar-lebar deh mata lo. Lihat kanan-kiri, keluarga dan sahabat selalu menyayangi lo apa adanya. Tanpa terkecuali. Mereka lebih setia. Mereka mau lo bisa kembali tersenyum, bahagia seperti sedia kala. Nggak punya pacar juga nggak bakal mati kok, kecuali lo bunuh diri. Ya jangan-_-
Dan semuanya itu gue lewati dengan apa adanya, mengalir layaknya gue ikutin kemana pun arus sungai menuju akhir perjalanannya.
Karena satu kebahagiaan ilang, akan ada kebahagiaan-kebahagiaan lain yang akan menggantikan. Hadir untuk menciptakan suasana baru. Itulah roda kehidupan. Ada kalanya kita dibawah, dan ada kalanya kita di atas. Jangan sampai terpuruk, tolonglah. Hidup lo sangat berarti untuk diri lo sendiri, apalagi untuk orang lain. So, you have to believe if you can do everything for be better. For nice day.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar